0

proposal 2

Posted on Kamis, 18 Juli 2013

BAB II
TINJUAN PUSTAKA

2.1  Tinjuan Teoritis
2.1.1        Latihan Fisik
2.1.1.1  Pengertian
Latihan fisik adalah pergerakan tubuh yang dilakukan otot dengan terencana dan berulang yang menyebabkan peningkatan pemakaian energi dengan tujuanmemperbaiki kebugaran fisik (Pedriatics, 1994). Definisi lain, latihan fisik atau exercise adalah subkelompok aktifitas fisik berupa gerakan tubuh yang terencana, terstruktur dan repetitive (berulang) untuk memperbaiki atau memulihkan satu atau lebih komponen kebugaran fisik (Halliwell and Whiteman, 2004).
Latihan fisik berdasarkan sumber tenaganya atau pembentukan ATP melalui tiga sistem, Yaitu 1) Sistem aerobik. 2) Sistem glikolisis anaerobik (Lactic acid system dan 3) Sistem ATP Creatinin Phospat (phosphagen system) (Fox, 1993).
2.1.1.2  Jenis-jenis Latihan Fisik
Triganto (2005) menyebutkan bahwa olahraga terbagi menjadi dua jenis, yaitu olahraga aerobik dan anaerobik.
2.1.1.2.1        Olahraga Aerobik
Yaitu olahraga yang membutuhkan oksigen sebagai sumber energi utama bagi tubuh untuk bergerak. Definisinya adalah yang sifatnya ringan, gerakan yang dilakukan berulang-ulang, selain itu waktu untu melakukannya lama. Olahraga jenis inilah yang dapat digunakan untuk meningkatkan derajat kesehatan. Contoh olahraga aerobik adalah jalan cepat, jogging, renang, lari dan sepeda jarak jauh.
2.1.1.2.2        Olahraga anaerobik
Olahraga anaerobik membutuhkan asam laktat sebagai energi utama. Definisinya adalah olahraga yang dilakukan dengan intensitas yang berat, gerakannya tidak selalu harus dilakukan berulang-ulang dan waktu melakukannya pendek. Tujuan dari olahraga ini adalah untuk meningkatkan penampialn fisik dan meningkatkan prestasi atlet seperti membesarkan, menguatkan otota tubuh dan menambah daya ledak (explosive power) otot. Contoh olahraga jenis ini adalah angkat besi, binaraga, lari dan sepeda jarak pendek atau sprint.

2.1.1.3  Manfaat Latihan Fisik
Sebagian besar gejala-gejala medis yang diakibatkan kurangnya kegiatan merupakn hal yang menakutkan. Harus disadari bahwa apabila tubuh tidak pernah atau sedikit dipakai, maka kerja paru menjadi tidak efisien, jantung melemah, kelenturan pembuluh-pembuluh darah berkurang, ketegangan otot-otot menghilang dan seluruh tubuh menjadi lemah, yang menjadi sasaran empuk bagi berbagai macam penyakit. Latihan olahraga yang baik ialah latihan yang digunakan untuk mencapai kesegaran jasmani dengan kebutuhan tiap individu. Latihan yang berlebihan malah merugikan.
Menurut Tjokronegoro (2004), latihan olahraga menghasilkan keuntungan sebagai berikut:
1)      Peningkatan efisiensi kerja paru
Seorang terlati dapat mnyediakan oksigen hampir dua kali lipat permenit daripada yang tidak terlati.
2)      Peningkatan efisiensi kerja jantung
Jantung semakin kuat dan dapat memompa lebih banyak darah. Akibatnya orang terlatih, denyut jantungnya lebih lambat 20 kali per menit daripada yang tidak terlatih.
3)      Peningkatan jumlah dan ukuran pembuluh-pembuluh darah yang menyalurkan darah ke seluruh tubuh.
4)      Peningkatan volum darah yang mengalir ke seluruh tubuh.
5)      Peningkatan ketegangan otot-otot dan pembuluh darah, yang seringkali bisa menurunkan tegangangan darah tinggi.
6)      Mengubah tubuh yang berlemak menjadi tubuh yang tegap dan berisi.
7)      Peningkatan konsumsi oksigen maksimal.
Dalam hal ini, terjadi peningkatan kondisi tubuh secara menyeluruh terutama organ-organ penting seperti paru, jantung, pembuluh darah dan seluruh jaringan tubuh, sehingga akan memperkuat daya tahan tubuh terhadap berbagai macam penyakit.
8)      Menambah kepercayaan pada diri sendiri.

2.1.1.4  Kategori tingkat kebugaran
Menurut Tim Pengembangan Sumber Daya Manusia Yayasan Pendidikan Haster (1996), ada 5 kategori tingak kebugaran, yakni:
1)      Kategori 1 (Buruk sekali)
Mereka yang termasuk kategori ini antara lain pekerja di belakang meja, penonton TV, orang yang terlalu banyak merokok dan makan, serta mereka yang selalu mengeluh tidak enak badan.
2)      Kategori 2 (Buruk)
Mereka yang termasuk kategori ini adalah orang-orang yang hanya sekali seminggu berolahraga ringan, seperti main golf setiap sabtu
3)      Kategri 3 (Sedang)
Mereka yang termasuk kategori ini adalah orang-orang yang berjalan kaki tiap pagi hari, selalu mengisi waktu berolahraga dan tekun dari minggu ke minggu sepanjang tahun.
4)      Kategori 4 (Baik)
5)      Kategori 5 (Baik sekali)
Mereka yang termasuk kategori ini adalah orang-orang atau para pemain kompetisi (profesional), latihan setiap hari dan sekali-kali melakukan kompetisi.
Sedangkan menurut Dariyo (2003), para ahli menunjukkan beberapa tipe kegiatan fisik yang dapat membantu mempertahankan dan meningkatkan taraf kesehatan individu. Berikut ini tercakup kriteria kegiatan latihan ringan, cukup dan berat. Masing-masing kegiatan memiliki tujuan yang berbeda, yaitu:
1)      Latihan ringan
Latihan ringan adalah kegiatan-kegiatan yang memiliki porsi untuk orang awam (bukan atlet) terutama bagi orang yang tidak pernah atau jarang melakukan kegiatan olahraga. Bila ia melakukan olahraga atau jarang melakukan kegiatan olahraga. Bila ia melakukan olahraga dengan porsi yang melebihi kapasitasnya, akan berdampak tidak baik bagi kondisi kesehatan fisiknya. Untuk itulah, disarankan agar kegiatan latihan ringan bertujuan untuk meningkatkan taraf kesehatan dan kekurangan badan. Yang tergolong latihan ringan ini, antara lain berjalan lambat, bersepeda, berenang, bermain golf. Bowling, memancing, dan merawat rumah atau berkebun.
2)      Latihan cukup
Bagi orang awam (bukan atlet) yang sering melakukan kegiatan olahraga (misalnya seminggu 1-3 kali), dapat melakukan latihan yang cukup proposinya. Ia dapat melakukan latihan yang melebihi dari latihan ringan, tetapi tidak melebihi standar seorang atlet. Tujuan dari latihan cukup ini, selain dapat mencegah gangguan penyaki, juga dapat menciptakan kestabilan taraf kesehatan agar dapat meningkatkan prestasi di luar bidang olahraga, misalnya prestasi kerja, prestasi sekolah atau kuliah. Latihan yang cukup ini, misalnya jogging, berenang, tenis meja dan memancing atau mengecat rumah.
3)      Latihan berat
Bagi seorang atlet, sudah sewajarnya kalau ia memiliki taraf latihan olahraga yang intensif dan cenderung keras karena tujuannya mencapai puncak prestasi. Bahkan, dapat dikatakan olahraga merupakan kegiatan utama yang dijadikan sumber penghasilan dalam hidupnya. Orang-orang ini akan melakukan kegiatan latihan yang berat, misalnya latihan 6 kali seminggu, berjalan setiap hari, bersepeda cepat 4 kali seminggu, latihan panjat tebing, memancing dan memindahkan furniture berat atau latihan sejenis.
2.1.1.5  Tingkatan olahraga
Menurut Tim Pengembangan Sumber Daya Manusia Yayasan Pendidikan Haster (1996), ada 5 kategori tingak kebugaran, yakni:
6)      Kategori 1 (Buruk sekali)
Mereka yang termasuk kategori ini antara lain pekerja di belakang meja, penonton TV, orang yang terlalu banyak merokok dan makan, serta mereka yang selalu mengeluh tidak enak badan.
7)      Kategori 2 (Buruk)
Mereka yang termasuk kategori ini adalah orang-orang yang hanya sekali seminggu berolahraga ringan, seperti main golf setiap sabtu
8)      Kategri 3 (Sedang)
Mereka yang termasuk kategori ini adalah orang-orang yang berjalan kaki tiap pagi hari, selalu mengisi waktu berolahraga dan tekun dari minggu ke minggu sepanjang tahun.
9)      Kategori 4 (Baik)
10)  Kategori 5 (Baik sekali)
Mereka yang termasuk kategori ini adalah orang-orang atau para pemain kompetisi (profesional), latihan setiap hari dan sekali-kali melakukan kompetisi.
Sedangkan menurut Dariyo (2003), para ahli menunjukkan beberapa tipe kegiatan fisik yang dapat membantu mempertahankan dan meningkatkan taraf kesehatan individu. Berikut ini tercakup kriteria kegiatan latihan ringan, cukup dan berat. Masing-masing kegiatan memiliki tujuan yang berbeda, yaitu:
4)      Latihan ringan
Latihan ringan adalah kegiatan-kegiatan yang memiliki porsi untuk orang awam (bukan atlet) terutama bagi orang yang tidak pernah atau jarang melakukan kegiatan olahraga. Bila ia melakukan olahraga atau jarang melakukan kegiatan olahraga. Bila ia melakukan olahraga dengan porsi yang melebihi kapasitasnya, akan berdampak tidak baik bagi kondisi kesehatan fisiknya. Untuk itulah, disarankan agar kegiatan latihan ringan bertujuan untuk meningkatkan taraf kesehatan dan kekurangan badan. Yang tergolong latihan ringan ini, antara lain berjalan lambat, bersepeda, berenang, bermain golf. Bowling, memancing, dan merawat rumah atau berkebun.
5)      Latihan cukup
Bagi orang awam (bukan atlet) yang sering melakukan kegiatan olahraga (misalnya seminggu 1-3 kali), dapat melakukan latihan yang cukup proposinya. Ia dapat melakukan latihan yang melebihi dari latihan ringan, tetapi tidak melebihi standar seorang atlet. Tujuan dari latihan cukup ini, selain dapat mencegah gangguan penyaki, juga dapat menciptakan kestabilan taraf kesehatan agar dapat meningkatkan prestasi di luar bidang olahraga, misalnya prestasi kerja, prestasi sekolah atau kuliah. Latihan yang cukup ini, misalnya jogging, berenang, tenis meja dan memancing atau mengecat rumah.
6)      Latihan berat
Bagi seorang atlet, sudah sewajarnya kalau ia memiliki taraf latihan olahraga yang intensif dan cenderung keras karena tujuannya mencapai puncak prestasi. Bahkan, dapat dikatakan olahraga merupakan kegiatan utama yang dijadikan sumber penghasilan dalam hidupnya. Orang-orang ini akan melakukan kegiatan latihan yang berat, misalnya latihan 6 kali seminggu, berjalan setiap hari, bersepeda cepat 4 kali seminggu, latihan panjat tebing, memancing dan memindahkan furniture berat atau latihan sejenis.
2.1.1.6  Takaran olahraga
Helena (2000) menyebutkan bahwa takaran olahraga yang perlu diperhatikan adalah intensitas, lama dan frekuensi latihan.
1)      Intensitas Latihan
Intensitas latihan merupakan faktor terpenting dalam olahraga. Untuk mendapat kesegaran jasmani yang diharapkan, olahraga harus dilakukan dalam takaran yang cukup. Untuk mengetahui apakah intensitas latihan yang dilakukan sudah cukup, secara sederhana dapat diukur dengan menghitung detak jantung nadi saat melakukan olahraga. Denyut nadi maksimal (DNM) bagi
DNM= 22- Usia (dalam tahun)
seseorang tergantung pada usianya dan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

2)      Lama latihan
Lama latihan olahraga juga ada takarannya. Setiap melakukan olahraga sebaiknya sona sasaran harus dicapai dan dipertahankan paling sedikit 25 menit. Latihan mencapai zona sasaran yang dilakukan lebih lama memberikan efek yang lebih baik. Pada waktu melakukan olahraga yang lamanya mencapai 40-90 menit.\
3)      Frekuensi latihan
Yang dimaksud frekuensi latihan adalah frekuensi latihan setiap minggu. Latihan olahraga yang dilakukan 3 kali dalam seminggu akan memberikan efek yang berarti bagi kesehatan dan kebugaran. Lakukan dengan intensitas rendah yang semakin lama makin ditingkatkan intensitasnya. Usahakan olahraga dilakukan 3-5 kali per minggu dengan durasi 30-60 menit yang jika tidak memungkinkan dilakukan dalam satu kali latihan dibagi dalam tiap latihan 10 menit.
Apapun olahraga yang dilakukan, tetap jalankan sesuai kaidah olahraga. Yakni tetap lakukan pemanasan yang sesuai dengan nomor olahrag dan sesudahnya juga lakukan pendinginan. Pastikan ada waktu istirahat yang cukup, jangan memaksakan diri dan melakukan gerakan yang dinyatakan berbahaya.
2.1.2        Dismenore
2.1.2.1  Pengertian
Dismenore atau nyeri haid merupakan gejala, bukan penyakit. Gejalanya terasa nyeri di perut bagian bawah. Pada kasus dismenorea berat, nyeri terasa sampai seputaran panggul dan sisi dalam paha. Nyeri terutama pada hari pertama dan kedua  menstruasi. Nyeri akan berkurang setelah keluar darah menstruasi yang cukup banyak (Manuaba, 1999).
Dismenore atau nyeri haid adalah gejala-gejala ginekologik yang paling sering dijumpai. Bahkan wanita-wanita dengan dismenorea cenderung untuk mendapat nyeri haid rekurens secara periodik yang menyebabkan pasien mencari pengobatan darurat (Greenspan, Baxter, 2000).
Dismenore adalah nyeri saat haid yang terasa di perut bagian bawah dan muncul sebelum, selama atau setelah menstruasi. Nyeri dapat bersifat kolik atau terus menerus. Dismenore timbul akibat kontraksi disritmik lapisan miometrium yang menampilkan satu atau lebih gejala mulai dari nyeri ringan hingga berat pada perut bagian bawah, daerah pantat dan sisi medial paha (Badziad, 2003).
2.1.2.2  Jenis Dismenore
Berdasarkan jenis nyerinya, dismenore dibagi menjadi:
2.1.2.2.1        Dismenore Spasmodik
Dismenore spasmodik yaitu nyeri yang dirasakan dibagian bawah perut dan berawal sebelum masa haid atau segera setelah masa haid mulai. Beberapa wanita yang mengalami dismenorea spasmodik merasa sangat mual, muntah bahkan pingsan. Kebanyakan yang menderita dismenorea jenis ini adalah wanita muda, akan tetapi dijumpai pula kalangan wanita berusia di atas 40 tahun yang mengalaminya (Mansjoer, 2001).
2.1.2.2.2        Dismenore Kongestif
Dismenore kongestif yaitu nyeri haid yang dirasakan sejak beberapa hari sebelum datangnya haid. Gejala ini disertai sakit pada buah dada, perut kembung, sakit kepala, sakit punggung, mudah tersinggung, gangguan tidur dan muncul memar di paha dan lengan atas. Gejala tersebut berlangsung antara dua atau tiga hari sampai kurang dari dua minggu sebelum datangnya menstruasi.
Berdasarkan ada tidaknya penyebab yang dapat diamati, dismenorea dapat dibagi menjadi:
a.       Dismenore Primer
Dismenore primer yaitu nyeri haid yang timbul tanpa ada sebab yang dapat diketahui. Dismenorea primer terjadi sejak usia pertama kali datangnya haid yang disebabkan oleh faktor intrisik uterus dan berhubungan erat dengan ketidak seimbangan hormon steroid seks ovarium, yaitu karena produksi hormon prostaglandin yang berlebih pada fase sekresi yang menyebabkan perangsangan pada otot-otot polos endometrium (Badziad, 2003).
b.      Dismenore Sekunder
Dismenore sekunder terjadi karena adanya kelainan pada organ genetalia dalam rongga pelvis. Dismenorea ini disebut juga sebagai dismenorea organik, dapatan (akuisita) atau ekstrik. Kelainan ini dapat timbul setiap saat dalam perjalanan hidup wanita, contohnya pada wanita dengan endometriosis atau penyakit peradangan pelvik, penggunaan alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim, dan tumor atau polip yang berada di dalam rahim. Nyeri terasa dua hari atau lebih sebelum menstruasi dan nyeri semakin bertambah hebat pada akhir menstruasi (Llewellyn, 2001).
2.1.2.3  Derajat nyeri dismenore
Riyanto (2002) menyebutkan bahwa derajat dismenore ada empat yaitu derajat 0-3
1)      Derajat 0
Tanpa rasa nyeri dan aktifitas sehari-hari tak terpengaruhi.
2)      Derajat 1
Nyeri  ringan  dan  memerlukan  obat  rasa  nyeri,  namun  aktifitas jarang terpengaruh.
3)      Derajat 2
Nyeri sedang dan tertolong dengan obat penghilang nyeri namun aktifitas sehari-hari terganggu.
4)      Derajat 3
Nyeri sangat hebat dan tak berkurang walaupun telah menggunakan obat  dan  tidak  dapat  bekerja,  kasus  ini  segera ditangani dokter.
Sementara itu menurut Potter (2005), karalteristik paling subyektif pada nyeri adalah tingkat keparahan atau intensitas nyeri tersebut. Klien seringkali diminta untuk mendeskripsikan nyeri sebagai nyeri ringan, sedang atau parah. Skala deskriptif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih objektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Deskriptor Scale, VDS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari 3-5 kata. Pendeskripsi ini dirangking dari “tidak teras nyeri” sampai “nyeri yang tidak tertahankan”. Alat VDS ini memungkinkan klien untuk mendeskripsi nyeri. Skala penilaian numerik (Numerical Rating Scale, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendekripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10.


Gambar 1 Skala Intensitas Nyeri menurut Potter (2005)
2.1.2.4  Etiologi
2.1.2.4.1        Dismenore Primer
Penyebab utama dismenore primer tidak diketahui, diduga peningkatan kadar prostaglandin, leukotriens, dan pelepasan vasopressin selama peluruhan endometrium memegang peranan utama dalam simtomatologi dismenore. Prostaglandin, khususnya PGFdan PGE2, diduga meningkatkan kontraksi
miometrium sehingga terjadi iskemia uteri dan sensitivitas saraf terminalis. Tingkat keparahan dismenore sangat berkorelasi dengan durasi mentruasi, jumlah aliran menstruasi, dan kadar prostaglandin yang dilepaskan dalam cairan haid (Vuong, 2006).
2.1.2.4.2        Dismenore Sekunder
Penyebab dismenore sekunder bergantung pada kelainan yang terjadi pada panggul. Dismenore sekunder dapat disebabkan oleh endometriosis, polip atau fibroid uterus, penyakit radang panggul (PRP), perdarahan uterus disfungsional, prolaps uterus, maladaptasi pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR), produk kontrasepsi yang tertinggal setelah abortus spontan, abortus terapeutik, atau melahirkan serta kanker ovarium atau uterus (Morgan, 2009).
2.1.2.5  Patofisiologi
Selama fase luteal dan menstruasi, prostaglandin F2 alfa (PGF2α), disekresi. Pelepasan PGF2α yang berlebihan meningkatkan amplitudo dan frekuensi kontraksi uterus dan menyebabkan vasopasme arteriol uterus, sehingga mengakibatkan iskemia dan kram abdomen bawah yang bersifat siklik. Respon sistemik terhadap PGF2α meliputinyeri punggung, kelemahan, pengeluaran keringat, gejala saluran cerna (anoreksia, mual, muntah, dan diare) dan gejala sistem syaraf pusat meliputi pusing, sinkop, nyeri kepala dan konsentrasi buruk (Bobak, 2004).
2.1.2.6  Manifestasi klinis
Gejala dismenore yang paling umum adalah nyeri mirip kram di bagian bawah perut yang menyebar ke punggung dan kaki. Gejala terkait lainnya adalah muntah, sakit kepala, cemas, kelelahan, diare, pusing, dan kembung atau perut terasa penuh bahkan beberapa wanita mengalami nyeri sebelum menstruasi dimulai dan bisa berlangsung hingga beberapa hari (Ramaiah, 2006).
Sedangkan menurut Riyanto (2002) menyebutkan bahwa gejala-gejala klinis biasanya dimulai sehari sebelum haid berlangsung selama hari pertama haid dan jarang terjadi setelah itu. Nyeri biasanya merupakan nyeri di garis tengah perut (pada abdomen bawah) punggung, tulang kemaluan. Nyeri terasa timbul, tajam dan bergelombang. Biasanya mengikuti kontraksi dan dapat menjalar ke arah pinggang belakang. Selain rasa nyeri, dapat pula disertai mual, sakit kepala, dan mudah tersinggung atau depresi.
2.1.2.7  Penatalaksanaan
Untuk beberapa wanita yang sedang dismenore biasanya nyeri dapat dikurangi dengan pemberian panas (kompres panas atau mandi air panas), masasae, latihan fisik, dan tidur cukup untuk meredakan dismenore primer. Panas meredakan iskemia dengan menurunkan kontraksi dan meningkatkan sirkulasi. Perubahan diet dengan mengurangi garam dan peningkatan penggunaan uretik alami, seperti asparagus atau daun sup dapat mengurangi edema dan rasa tidak nyaman yang timbul. Penggunaan obat analgesik, obat-obatan anti radang bukan steroid (Non Steroid Anti Inflammatory Drugs) dan diuretik untuk relaksasi uterus. Sebagai upaya terahir untuk mengatasi dismenore yang tidak dapat dikendalikan pembedahan dapat diindikasikan (Bobak, 2004).
Ramaiah (2006) menyebutkan bahwa, salah satu cara yang sangat efektif untuk mencegah nyeri dismenore ini adalah melakukan aktifitas olahraga. Beberapa latihan dapat meningkatkan pasokan darah ke organ reproduski sehingga memperlancar peredaran darah. Olahraga teratur seperti berjalan kaki, jogging, berlari, bersepeda, renang atau senam aerobik dapat memperbaiki kesehatan secara umum dan membantu menjaga siklus menstruasi yang teratur. Olahraga setidaknya dilakukan tiga hingga empat kali seminggu, khususnya selama paruh kedua siklus menstruasi. Riset menunjukan bahwa perempuan yang berolahraga teratur dapat meningkatkan sekresi hormon dan pemanfaatannya, khusunya estrogen.




2.4  Hipotesa

Hipotesis adalah jawaban sementara untuk menjawab rumusan masalah Nursalam (2003). Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep tersebut, maka peneliti menggunakan rumusan kerja (Ha) dalam penelitiannya bahwa ada pengaruh latihan fisik terhadap penurunan nyeri dismenore pada remaja putri.

No Comments

Discussion

Leave a response