air mata sang Cinderella
Posted on Saturday, 24 September 2011
Hutan rimba terbakar kobaran api asmara yang menggebu. Perahu berlabuh di pelabuhan cinta. Desahan burung hantu menemani di sudut kamar. Jejak-jejak cinta semalam tercecer dalam nafsu sesaat. Tumpukkan uang berhamburan di ranjang sang Cinderella.
Hidup itu proses dan hidup itu pilihan. sementara aku memilih untuk melacur itu adalah proses hidupku. aku berjalan gontai, tergesa-gesa mengambil sebuah rokok di meja rias lalu menyulutnya dengan korekan gas. Kuhisap perlahan untuk menikmatinya lalu kuhembuskan ke udara dengan puas.
Tok… tok…
“wulaaan !” nada yang cemas di balik pintu.
Ku buka lalu kepalaku melongok keluar, “ada apa Ren ?”
“kamu lupa ? kamu punya janji denganku?” ucapnya kesal.
“oh iya… “
Aku tidak peduli dengan anggapan dan cemoohan orang lain. Yang penting aku tidak merugikan mereka.
Setelah tiba di lapangan. Aku dan Rendi berlari ke tengah lapangan lalu merebahkan dan mengadah ke langit kami tersenyum bersamaan.
“itu punyaku dan itu punyamu” tunjuk Rendi kesebuah awan.
“hubungan kamu dengan Anggi gimana?” tanyaku
“sudahlah… aku nggak mau bicara tentang Anggi”
“kenapa?” desakku
“aku dan dia sudah putus” ucapnya lalu tersenyum kearahku.
“kok… senang?” tanyaku heran
“aku baru menyadari, aku lebih mencintai seseorang dan bukan Anggi”
“siapa seseorang yang kamu maksud?”
“nanti kamu pasti tahu”
****
Sebuah kotak berwarna merah di tengah ranjang. Ku buka kotak itu, di dalamnya terdapat sebuah gaun berwarna putih dan sepucuk surat.
Pakailah gaun itu, dan datanglah dilapangan jam 8 malam
Aku mengernyitkan dahi, lalu ku remas surat itu dan ku buang ke sudut kamarku. Aku selimuti tubuhku dan bergumul dengan mimpi-mimpiku.
Hujan di malam ini membuatku terbangun. Jam menunjukan pukul jam setengah sepuluh. Dan aku teringat surat itu. Aku bergegas menuju jendela dan ku melihat seseorang yang berdiri tegar di bawah guyuran hujan malam.
Aku langsung memakai gaun putih itu. Dengan hati-hati aku mendekati seseorang yang aku tak kenal menyuruhku untuk memakai gaun.
“akhirnya kau datang juga, aku hampir putus asa menunggumu” ucapnya dengan suara rendah dan gemetar
“apa mau mu?” tanyaku gaun malam yang terbuka membuatku kedinginan.
aku balikan pundak orang itu.
“Rendiiiii !!! kamu gila, kamu sinting apa maksudmu?” Tanyaku marah dan sebuah bogem mentah dari tanganku mendarat tepat dipipinya lalu ia terjatuh.
Aku buang payungku. “kamu mau berantem denganku heh? Menyuruhku datang ke sini dengan memakai gaun ini?”
Aku mengulurkan tanganku lalu ia menarikku dan mencium bibirku dengan nafsu, rintikan hujan menghantam punggung putihku yang terbuka.
“aku mencintaimu” ujarnya disela ciumanya.
Aku dorong tubuh Rendi, “kau mencintaiku? Seorang pelacur? Seorang yang bisa merusak hidupmu !”
“kau bukan pelacur kau adalah Cinderella”
“Cinderella? Apakah kau tidak jijik denganku? Kau mencium seorang pelacur jalanan!!!”
“kau tetap Cinderella !!!” ujarnya lantang
“buka matamu! Cintamu sangat suci bagiku, berikanlah cintamu itu ke orang yang pantas jangan buat aku!!!”
“dan aku memilihmu”
“kau pasti menyesal” ujarku
Aku meninggalkan Rendi yang masih terdiam.
“kembalilah my Cinderella dan katakanlah kau juga mencintaiku” teriaknya
Aku masih terus berjalan menjauhinya. Setelah sampai rumah ku kunci rapat. Aku menghampiri cermin lalu ku amati setiap lekuk wajahku. Wajahku pucat dan tubuhku menggigil, ku buka laci di meja riasku sebuah plastik kecil dan ku sobek lalu ku hirup untuk menikmati sisa dari bubuk sabu yang habis.
Aku sambar jaket kucelku. Dengan langkah terburu-buru aku meninggalkan rumahku. Di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, aku menyalakan senter korek gasku. Aku memasuki gang sempit yang lumayan jauh dari jalan utama. Bau pengsing menyeruak di hidung bangirku.
Seseorang penjaga berbadan kekar berdiri di depan pintu.
“wulan andriani rasti” ujarku gemetar.
Lalu ia membuka pintu untukku kemudian aku berlari dan aku dapati beberapa orang yang sedang berpesta narkoba sambil tertawa menjijikkan.
“oh wulaaan… kau kemana saja sayang?” Tanya Irfan sang Bandar Narkoba
Aku menunduk dan menetaskan air mata, “aku tak punya uang dan aku sangat membutuhkan itu”
“kasihan sekali, kau tampak kucel sekali wulaan”
“berikan sedikit sabu untukku” ujarku
Bibirku gemeletuk saking menggigilnya tubuhku dan keringat dingin terus mengucur, rasa kecanduan menikam jiwaku. Lalu ku lepaskan kalung pemberian Rendi dan ku letakkan kalung itu di meja.
Irfan melemparkan sabu yang di bungkus ke wajahku.
“kau mau kemana sayang?” Tanya Irfan menghentikan langkahku.
“aku mau pulang, maf fan…”
Irfan memelukku, “kau milikku… tinggalah sebentar sayang” bisiknya di telingahku
“aku mohon fan"
“pergilah pelacur malamku”
Mereka menertawakanku lalu aku pergi menjauh dan sejauhnya dari tempat itu. Ku lirik jam tanganku menunjukkan pukul jam 2 malam.
“wulaaan…”
“ngapain kamu disini?” tanyaku dan bibirku masih bergemelutuk
“seharusnya aku yang bertanya ngapain kamu kesini?”
“kenapa kamu ikuti aku?” tanyaku tak mau kalah
“berikan barang haram itu”
“tidak !!! ini sangat berharga bagiku” tanganku menggengam erat sabu yang terbungkus plastik
“aku tahu kau menyayangiku”
Aku menunduk
“kau menyayangiku kan?” ulangnya lagi
“bagaimana bisa aku menyakinimu? Sementara lidahku bukan wanita suci”
“kamu pasti sembuh lan”
Aku menggeleng
“jika kamu ingin bersamaku berikan kepadaku”
Dengan berat hati ku berikan sabu itu ke Rendi
****
“RENDIIIIIII BUKA PINTUNYA!!! AKU KESAKITAN REN!!! AKU MOHON BERIKAN SEDIKIT UNTUKKU!!! KAU TEGA DENGANKU REN!!!”
Aku mulai lemas dan tertidur di balik pintu
****
Sedikit demi sedikit ku buka mataku. Rendi terdiam mematung melihatku.
“akhirnya kamu bangun juga”
air mataku menetes, “pulanglah Ren…”
“kenapa?” tanyanya lemas
"Aku sadar akan kesalahanku. Aku tak akan meminta maaf lagi. Karena diriku memang tidak pantas dimaafkan. Sudahi sampai di sini, jangan dipikirkan lagi"
“HIV akan merampasmu dariku, kau akan mati dan aku akan terluka menangisimu. Sekarang, apa yang harus kulakukan agar aku tidak terpuruk sedih kehilanganmu. Haruskah kuhapus segala rasaku padamu?”
“Aku mengerti, dengan kondisiku sekarang, orang bodohpun tidak akan mau menerimaku. Aku tak pantas menjadi Cinderella”
“Aku bukan pangeran, aku bukan tokoh dalam drama yang akan bilang `aku menerima segala kekuranganmu'. Aku Rendi, laki laki yang inginkan kesempurnaan seorang kekasih. Layaknya perempuan yang inginkan rayuan dan perhatian yang berlebihan. Aku ingin hidup bahagia selamanya bersama yang terkasih”
“Kejujuranmu yang selalu kupuja, entah kenapa kali ini terdengar sangat menyakiti. Pergilah"
****
Wulan membisu di hadapan cermin. Tanganya yang gemetar, berusaha mewarnai bibirnya yang telah mengering dengan lipstik. Air matanya mengalir membasahi pipi.
“aku sang pelacur yang akan mati dan aku bukan sang Cinderella yang selalu Rendi banggakan”
Tak kuasa memandang wajah sendiri, aku tutup wajahku dengan kedua tangan. Pematang bibirku semakin menunjukan betapa kuatnya nestapa yang membebani jiwaku saat mengingat masa laluku.
Aku menjerit duka. Sementara mereka yang mendengar dengan mudahnya mengeluh `si pelacur sudah gila' `si pelacur kehabisan obatnya'
Aku mengambil obat penenang lalu ku sumpal semua obat penenang itu ke dalam mulutku. demam semakin jahat menyiksa tubuh lemahku. Dengan wajah seputih mayat dan bibir yang mengejang hebat.
Aku jatuh tersungkur. Bayangan indah bersama Rendi terlintas.
“aku bukan Cinderella… kisahku tak seindah dirinya… Aku terlahir sia-sia…”
Samar-samar ku mendengar teriakkan Rendi. Aku tersenyum mendapati Rendi sudah di depanku lalu Rendi menggendongku dan berlari.
Rendi menerobos guyuran hujan. Rendi terus berteriak meminta tolong.
“aku mohon bertahanlah”
Aku mencintaimu, aku menyayangimu, dan kau adalah pangeran tampan yang sedang menunggangi kuda putih menjemput Cinderella di bukit gersang… akan tetapi seseorang menarik tanganku dengan paksa untuk mengikuti langkahnya… ternyata kau bukan milikku sang pangeran dan… masih banyak Cinderella yang lain menunggumu dengan setia.

Discussion