cerita cinta Putri
Posted on Saturday, 24 September 2011
Akhir bulan desember di Belanda dan musim dingin yang di tandai turunya hujan salju mebuatku malas untuk berbuat sesuatu walaupun masih banyak tugas yang belum ku selesaikan.
Sedikit malas ku gerakan tanganku untuk membereskan dokumen milik Tiana, kasihan Tiana, dia masih kecil belum cukup kuat untuk menghadapi penyakitnya, dia mengidap syndrome Turner, Tinia mengalami mutasi non disfunction, dia hanya mempunyai kromosom 2n-1 dan mempunyai tubuh yang ciri-cirinya yaitu mempunyai tubuh pendek, leher pendek, pangkal seperti bersayap, payudara dan rambut kelamin tidak tumbuh, putting susu letaknya berjauhan, seks kromatin negative dan steril.
Aku menangani penyakit Tinia dengan dr.Marvijk, aku adalah salah satu perawat di rumah sakit terbasar di Holland, setelah merapikan dokumen itu, aku langsung bergumul di dalam selimut, akhir desember membuatku takut dengan air, jangan Tanya jika summer datang aku bisa mandi sampai 4 kali, ponselku bergetar tertera di layar tertulis nama Vina, dia sahabatku.
PUTRIIIII kapan balik si ?? katanya
Liburan natal pulang ?
Dengan semangat 45 aku balas
VINAAAA kangeeennn
Maunya pengen pulang tapi kayanya
Januari hehe gimana indonesia aman?
Vina adalah teman SMA ku kami bertemu pertama kali di angkot aku sangkah dia adalah kakak kelas dan waktu perkenalan dia satu kelas denganku, ponselku kembali bergetar.
Aman dan terkendali
Jiah ko di undur lagi si ??
Jangan jangan uda kepencut ama bule ya?
Inget loh tu Negara pernah ngejajah
Jangan2 lagi km udah di jajah ama tu bule hahah
*kaburrrrr
*larisambilbawagolok
Hahaha di sini orangnya gede2 vin
Aku kalo di kempit di ketek bule
Uda mampus kali ye
Hahaha kirain kamu suka yg gede2
Wakakak
Hahha Udah akh pulsa abis mau ngirit :P
Nanti kalo pulang aku kabari bye
Perutku keroncongan beginilah musim dingin membuatku cepat lapar dan malas untuk beraktivitas, aku berjalan gontai menuju dapur dan mencari apapun makanan yang ada, aku menemukan sereal sisa tadi pagi, aku bawa sereal dan coklat hangat, terdengar suara musik hip hop di dalam kamar Kara, ku intip di balik celah kunci tetapi kamarnya tidak terkunci, Kara tertidur dengan pulas, dia lupa mematikan, aku mengendap-endap masuk dan mematikan tape Kara lalu ku bereskan selimutnya.
Aku kembali ke kamar dan melahap habis makananku, entah mengapa wajah Rifan melintas di pikiranku, sahabatku yang kini menghilang tanpa ku ketahui keberadaanya.
Rifan adalah teman sewaktu aku kuliah, dia seorang dokter, kami berkenalan di sebuah mall dan kembali bertemu di rumah sakit dan dia ada praktek sama seperti aku, perkenalan itu berlanjut, dia sangat baik, dia selalu tahu apa yang ku inginkan tapi dia tidak tahu aku mencintainya sampai sekarang, keluargaku dan keluarganya mengetahui kami berteman baik, kami hanya sebatas sahabat tidak lebih.
Dan pada waktu itu …
“put tadi aku ketemu loh sama Dian” ujarnya semangat
“di mana?” tanyaku. Dian adalah teman chatingnya
“kita janjian di mall trus ketemu dan ternyata dia orangnya ya ampun cerewet banget, tapi aku suka dia lucu banget” Rifan tidak henti-hentinya bercerita tentang Dian.
Aku semakin penasaran siapa Dian yang bisa membuat Rifan jadi aneh seperti itu, Rifan berkali-kali mengajakku bertemu Dian berkali-kali aku tidak bisa dan juga Dian, di saat aku ada waktu tapi Dian sibuk, di saat Dian ada waktu giliran aku yang sibuk, aku mencoba meminta foto Dian tapi Rifan bilang ngga asyik lihat di foto enakan lihat langsung.
Teman sekelasku yang di SMA mengajak untuk reuni, karena tempatnya cukup jauh dan aku sedikit tidak tahu tempatnya di mana.
“fan, besok kamu sibuk ngga?” ujarku
“emang napa put?” tanyanya di ujung telfon sana
“gini besok ada reuni SMA, tapi aku belum tahu tempatnya, kalo bisa si mau ngga kamu anterin aku?”
“maaf banget put, besok aku mau nganterin Dian, maaf banget ya biasanya aku slalu nganterin kamu tapi kalo besok aku ngga bisa maaf ya”
Aku menghembuskan nafas “ya sudah”
Dian sekarang lebih penting, aku harus mengerti, walaupun sedikit jahat aku mengumpat Dian, seseorang yang belum ku kenal mengambil sahabatku tanpa permisi, jujur aku takut kehilangan Rifan.
Besoknya aku ke tempat reuni dengan pasrah akan ke sasar, walhasil aku telat 30 menit, ya tukang becak dengan tampang polosnya membodohiku yang tak tahu jalan, dan membayar becaknya dengan dua kalilipat.
Teman-temanku sudah berkumpul, dengan muka kesal aku bergabung dengan teman-temanku, mereka tertawa waktu aku menceritakn kejadian tadi, tertawa di atas penderitaan seseorang sungguh terlalu.
Seseorang menepuk pundakku dengan keras, aku berbalik badan dengan tampang marah dan akan memaki tapi membuatku mengurungkan niatku.
“ko ada di sini?” Tanya Rifan
“aku yang seharusnya yang nanya, ngapain kamu kesini katanya mau nganterin Dian”
“jawabnya jutek amat”
“abis kesel aku kesasar”
“hahaha, ko bisa?”
“ko bisa ko bisa”
“maaf deh kalau tahu kesini nanti kita bareng” ujarnya
“Rifaaan” seorang cewek memanggil dia
“tuh Dian” ujarnya
Ya ampun yang di maksud Rifan tu dia, yang sudah merampas Rifan dari ku, Dian itu kenapa bukan Dian yang lain, kenapa Rifan pilih dia, rasanya ingin meneteskan air mata di saat itu juga, DIAN MANTAN SAHABATKU ????? mantan teman sebangku ku selama dua tahun datang di sela-sela aku dan Rifan??.
“dian ini putri, yang sering aku ceritain ke kamu” ujar Rifan
“kita udah kenal ko” Dian tersenyum
Aku membalas senyumanya, “ya”
“ko kalian ngga bilang si?”
“udahlah” ujarku lalu pergi meninggalkan mereka
Kenapa harus Dian? Seseorang yang di masa laluku, aku tidak terima dengan ucapanya dulu, memfitnahku, aku seseorang yang terdekatnya memberikan solusi kalau dia punya masalah, tapi dia memfitnahku, bahwa aku penyebab semuanya, tapi teman-temanku selalu ada untukku dia menyuruhku untuk bertindak tegas terhadap dia, tapi aku tidak punya keberanian dia sahabatku dulu, tapi setelah dapat masukan dari sana sini, dan bertindak tegas di depan kelas.
Setelah kejadian itu aku sangat muak terhadap muka polosnya, ingin sekali aku meludahi wajahnya, ingin sekali aku menamparnya dan ingin menendangnya jauh sampai keluar dari muka bumi dan mati perlahan. Cukup sudah ke sialanku hari ini.
“pulangnya bareng ya?” ajak Rifan
Aku gelengkan kepala
“kenapa?”
“ngga enak sama Dian” jawabku sekenanya
“ngga pa-pa kali, nanti abis nganterin Dian, trus aku anterin kamu sekalian aku mampir ke rumah kamu”
“ngga usah, mampirnya kapan-kapan aja” ujarku lemas
“ko gitu?”
“ngga enak fan”
Acara reuni masih 2 jam lagi, tapi aku pamit pulang dengan alas an mamaku menyuruhku pulang.
Berkali-kali Rifan menelfon dan sms tapi tak pernah ku balas, biarkan aku sekarang sendiri. Di sms Rifan yang ke 15
Keluar sekarang put
Maaf fan aku tadi tidur trus
HP-nya aku silence
Mang ada apa?
(balasku berbohong)
Aku udah ada di depan pintu kamar kamu
Aku Terperanjat kaget lalu ku buka pintu kamarku, Rifan berdiri mematung di depan pintu kamarku, dia menarikku dengan lembut ke dalam mobilnya.
“put kamu kenapa si?”
“kenapa apanya? Ada yang berubah?” Tanyaku bingung
“ada, udahlah lagian masalah kamu udah lama kan sama Dian?”
Aku mengehembuskan nafas “kamu udah tahu?”
“ya”
“kamu percaya?”
“ng…ng”
“okee” terlihat jelas dia mempercayai Dian
“bukan gitu” ujar Rifan cepat
“gini fan, walaupun aku ngga tahu keterangan apa yang di kasih Dian ke kamu, aku ngga peduli sudah cukup dia memfitnah aku dan satu lagi aku ngga ngelarang kamu untuk dekat dengan Dian”
“Putri, Dian ngerasa bersalah banget sama kamu”
“kenapa ngga dari dulu?” tanyaku ketus
“kamu selalu ngehindar dari dia”
“udahlah fan”
Setelah kejadian itu intensitas pertemuanku dengan Rifan menjadi berkurang atau mungkin kami sama-sama sibuk, tapi hari minggu dia datang ke rumahku dan bercerita tentang Dian dan kemarin dia menembak Dian lalu di terima, setiap kali mendengar nama Dian membuatku sakit, beruntung sekali dia mendapatkan Rifan, setiap kali Rifan bercerita tentang Dian membuatku menahan nafas dan air mata yang akan jatuh.
Aku patah hati, sakit sekali, tahu kah kalian patah hati di ibaratkan dengan anak yang berumur 5 tahun yang sedang belajar naik sepeda lalu jatuh, lutut mu berdarah dan kamu menangis menjerit kesakitan dan ibu mu memarahimu karena kamu ngga hati-hati, kemudian ibu mu membersihkan luka mu dengan alcohol dan di teteskan obat merah di lukamu tanpa memperdulikanmu yang merasa pedih dan sakit akan lukamu.
Sudah dua bulan aku tidak menghubungi Rifan mungkin dia sudah merasa nyaman dengan kekasihnya itu, dan di saat itu juga aku mendapat tawaran untuk bekerja di belanda, berkali-kali aku menelpon Rifan, sms dan email, tapi dia tidak pernah menghubungiku sampai sekarang.
Aku menangis terisak aku kehilangan sahabatku, seandainya Dian tidak hadir di antara kami mungkin kami masih bersama-sama.
Aku tertidur pulas sambil menangis walhasil mataku sembab waktu bangun tidur, dengan mataku seperti ini semua dokter menyuruhku pulang, karena apa? Aku menangis karena kangen keluarga jadi besok aku bisa pulang ke indoneesia.
Semua keluargaku aku hubungi kalo besok pulang, dengan semangat 45 aku menuju bandara yang di antar Kara, dan setelah sampai di bandara soekarno hatta, dan bertemu dangan keluargaku juga sahabatku Vina.
Suasana rumahku sedikit berubah sudah 2 tahun aku meninggalkan rumahku ini. Ponselku bergetar
Put mau ikut ngga?
Pamanku lagi buka restorant trus lagi
Dpt kupon makan gratis
Mau ikut vin
Jemput ya
Vina menjemputku lalu kami menuju restaurant milik paman vina, ketika aku berjalan melewati patung, aku berpas-pasan dengan seseorang yang ku kenal.
“rifaaan”
“putriii”
Kami berpelukkan melepas rindu, aku menangis di pelukkanya, aku sangat merindukanya, sangat amat menyayanginya.
Aku melepaskan pelukkanya “kamu jahat, ngga angkat telfon aku, ngga balas sms-ku, ngga balas e-mailku, kamu kemana?” aku berkata sambil terisak.
“waktu itu aku lupa bawa HP put, sewaktu aku menghubungi kamu kembali no kamu udah ngga aktif, lalu aku kerumah kamu dan ternyata kamu udah pergi ke belanda, kenapa kamu ngga cerita kalo dapet kerja di sana?”
Aku menghapus air mataku dengan punggung tanganku, “gimana mau cerita, ngehubungi kamu susah banget”
Rifan mengusap air mataku, sesuatu yang membuatku kaget, dia memakai cincin kawin di jarinya, dan seseorang cewe di belakang Rifan entah dari mana dia datang yang membuatku sadar, dia memakai cincin kawin yang sama.
“kalian sudah menikah?” tanyaku shock
“iya” jawab Rifan
“kamu ngga ngundang aku fan, kamu benar-benar jahat fan” ucapku di sela-sela isakanku
“aku ngga tahu harus menghubungi kamu, tapi aku udah minta tolong ke vina untuk memberitahu kamu”
“maaf put” ucap Vina sedih
“kenapa Vin? Ko kamu gitu sama aku?” tanyaku
Vina memegang erat tanganku, seakan-akan ku tahu Vina ngga mau nyakitin perasaanku, karena Rifan menikah dengan mantan sahabatku.
Aku melangkah mundur, “selamat walaupun terlambat mengucapkan kalimat itu, semoga kalian selalu bahagia” ucapku penuh ketegaran aku memeluk Rifan dan di susul Dian
Kenyataan pahit kini kembali ku terima, aku meminta ijin ke toilet tapi aku tidak pergi ke toilet melainkan aku pergi menjauh di tempat itu, di tempat di mana aku dan Rifan bertemu, di tempat itu juga Rifan meperkenalkan pasangan hidupnya.
Aku sangat berharap ini hanya sekedar mimpi buruk, dan jika ku kembali bangun semuanya kembali normal, tapi itu semua kenyataan bukan mimpi, biarlah cerita cintaku tertahta rapi, di sini di hatiku selamanya

Discussion