0

Lara Lembayung

Posted on Saturday, 24 September 2011



Gadis kecil itu mencoba menarik sahabatnya untuk mengumpet bersamanya.
“huss... jangan berisik,” gadis mungil itu bersuara berbisik.
“Jeje... pindah yuk,” bocah laki-laki itu mengajak tapi gadis mungil itu menolak halus.
Penunggu petak umpet sudah mendekati mereka. Mata gadis yang menunggu itu memincingkan matanya yang sudah nyaris segaris itu ke  arah mereka.
“JEJE... AKA...” teriak gadis itu lalu berlari dan kembali ke sebuah petak.

*****

Mata bulatnya terus memandang ke luar jendela kaca mobilnya. Setumpuk kerinduan yang mendalam terhadap kampung halamanya memuncah. Anjani Prameswari Eka nama gadis itu. Semenjak ia berumur 7 tahun ia meninggalkan kampungnya itu, sampai ia sudah menjadi perawan yang siap dinikahi.
Pikirannya jauh melayang ke sebuah masa lalu indah bersama sahabatnya Alka Gusti Prayudha. Apakah ia masih mengenalnya atau tidak? Kata-kata itu selalu muncul dalam pikirannya.
Mobil kijang berdenyit nyaring lantas berhenti ke sebuah rumah yang dipagari baja-baja kokoh yang menjulang ke langit. Rumahnya yang bergaya kuno keraton masih seperti dulu hanya temboknya yang dicat lagi.
Ketika kaki Anjani menginjak halaman rumahnya. Mata-mata yang melihatnya tertegun tak kuasa melewatkan sebuah lukisan indah yang berjalan. Dari ujung kepala hingga ujung kaki Anjani membuat orang-orang berdecak kagum.
Sepasang mata bulat dengan bulu mata lentiknya bagaikan bulu burung merak yang ingin kawin untuk memikat pasanganya. Alis yang lebat, panjang hitam legam bagaikan deretan semut hitam yang mengantri. Hidung bangirnya yang eksotik mengalahkan bungah matahari yang mekar di pagi hari. Bibirnya layak buah kepundung, merah, ranum dan merekah. Lalu sebuah palung di dagunya menambahkan kesan dramatis. Kulitnya dengan rambut yang panjang terurai sepinggang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Lukisan Tuhan yang Hidup.

*****

Di bawah terik matahari pemuda gagah itu, berteduh di pohon beringin. Matanya yang jernih memandang jauh ke sebuah awan. Kemudian tersenyum simpul membuat kedua pipinya membentuk sebuah palung dalam. Bibir tipis yang merah digigitnya sehingga tahi lalat di atas bibir kirinya ikut merasuk.
“ALKA”
Alka menoleh sahabatnya berlari kesetanan.
“Ginar ada apa?” Alka duduk bersila.
“Alka kau tahu” ucapnya sambil mengambil nafas, “ituloh... kau masih ingat dengan Anjani? Sahabat kecil kita”
Alka mengangguk, “iya kenapa?”
“Ya... Tuhan dia begitu cantik, dia ada di sini!”
Alka mencoba membaca mata Ginar dan di matanya tidak ada dusta. Alka percaya.
“temuilah... kau rindu kan padanya, teman?” Ginar menepuk pundak Alka.
“sangat rindu, Ginar tapi apakah dia masih ingat padaku?” Alka menatap nanar.
“kau ini sudah mengkerut duluan, kau coba datang ke sana. Aku tahu kau mencintainya, bukan?”
Alka melongos, “huh... kau selalu bisa membaca pikiranku, dasar penyamun!”
Ginar terkekeh, “ayolah Alka, kau tidak ingin cepat-cepat? Bisa-bisa pemuda lain yang terpikat loh”
Alka panas lalu bangkit, “aku akan ke sana tapi aku ingin sembahyang dulu”
“jangan lupa bawa bungah dari kuil, semoga saja dia terpikat karena bungahnya bukan karena mu!”
Alka melempar selopnya ke arah Ginar.

*****
Anjani pasrah sahabatnya belum juga datang, sementara rumahnya sudah dipenuhi dan sesak oleh orang-orang yang menyambut kedatangan keluarganya. Ia berjalan gontai ke kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
Tok... tok...
Suara ketukan dari jendela. Anjani langsung membuka jendelanya seketika kemudian angin dari timur menerjang rambut legamnya. Sementara pemuda itu mengangah tak kuasa memandang pesona ciptaan Tuhan yang begitu Maha-sempurna.
Anjani tersenyum, hati Alka linu karena tersengat.
“siapa kau?” Tanya Anjani halus.
“jika rembulan menggantikan siang, apakah matahari akan mengalah untuk digantikan?”
Anjani tersenyum merekah, “matahari akan menjadikan malam ketika rembulan siang membenci pelangi yang tak kunjung datang”
“kau cantik”
“kau menawan Alka, bagaimana kabarmu, pemuda ganteng” Anjani menyodorkan tangan mulusnya lalu disambut Alka.
“sehat, bagaimana kabarmu, wanita cantik?”
“kau lihat aku begitu sehat” Anjani terkekeh.
“kau sangat berubah”
“tidak... aku masih seperti yang dulu Jeje sahabatmu” ucap Anjani mantap.
“hahaha aku tahu, penampilanmu yang aku maksud”
“seperti itik yang berubah menjadi angsa? Benarkan?”
“tidak Jeje... kau cantik dari bayi” jawab Alka mesem.
“emang kau tahu?”
“tahu karena dari kandungan kau dan aku selalu bersama”
Mereka tertawa keras.
“Anjani...” panggil ayahnya di balik pintu kamarnya.
“iya...”
“Anjani sudikah besok, kau datang ke tempat biasa?”
“insya Allah... Ya Alka... Aku akan kesana, aku sangat merindukanmu”

*****
Alka gelisah pertemuanya dengan Anjani yang membuatnya gelisah. Ia langsung mengambil selembar kertas dan pena, lalu ia menulis tentang perasaanya untuk Anjani.
Sama halnya dengan Alka, Anjani juga meraskan resah, gelisah. Matanya terpejam lalu wajah Alka melintas membuatnya semakin resah.

*****
Anjani melangkah mantap ke arah Alka yang duduk bersender ke batang pohon.
“hay, bagaimana tidurmu?” Tanya Anjani ketika sudah berada di samping Alka.
Alka menggeleng, “tadi malam aku tidak bisa tidur, kau?”
“sama aku juga tidak bisa tidur” jawab Anjani lemah.
“kau percaya tentang cinta pada pandangan pertama?”
“aku percaya, karena aku sudah terkena teori itu”
“apa yang kau rasakan?” Alka menatap Anjani.
“resah, gelisah dan hanya bayangan wajahnya yang menempel dimataku”
“apakah kau merasa terganggu dengan hal itu?”
Anjani menggeleng, “tidak... disetiap detik dan menit aku merasa selalu merindukannya”
“tersiksa?”
“sangat... jika tidak bertemu dengan yang terkasih”
“sudikah kau bercerita padaku, siapa pemuda itu yang sanggup memikat hatimu itu?” Alka tersenyum membuat lesung pipi nya semakin dalam.
“kau pasti tahu jika kau membaca selembar coretan perasaanku ini” Anjani menyodorka kertas putih.
Alka langsung mengambil dan lalu memulai membacanya.

Lagundi... Lagundi... Lagundi...
Kurcaci malam ini enggan datang...
Angin malam pergi tanpa pesan...
Hatiku kalang kabut...
Menikam perasaan rindu pada parasnya...
Malam ini aku merasakan getaran kerinduan yang begitu hebatnya, padahal tadi siang aku bertemu dengannya.
Rembulan saksinya sayang, aku begitu resah, gundah gulana menghadapi perasaan yang aneh ini... sejenak aku pejamkan mata ini wajahmu yang memenuhi alam mimpiku.
Inikah cinta anak hawa? Merasakan keanehan disetiap desahan nafas.
Akh... seberangilah titik horizon ke jantungku dan jadikanlah setiap darah adalah namamu ALKA.

Alka ingin berteriak tapi ia tahan sementara Anjani tertunduk lebih dalam lalu ia sodorkan selembar kertas ke Anjani.
Sebelum aku mencintai
Perkenankan aku melukis diwajah
Dengan setetes tinta
Yang terlahir dari tawa dan air mata
Tak ada intan, emas juga berlian menghiasi
Hanya sebuah pena yang terselip di dahan telinga
Ditemani bulu angsa putih sebagai pemanis
Kalau meminta
Aku akan berkata tak punya
Sedang memaksa
Kuganti serupa tapi tak sama
Lewat kata sebagai perantara meski tak indah
Namun sederhana terdengar telinga
Kecewa?
Tak apa
Terluka?
Biarkan saja
Mengapa?
Karena aku suka berkata ketimbang berdusta
Bahwa aku laki-laki tak punya
Selain tawa dan air mata juga kata sebagai pewarna cinta
Kau... Anjani...
Maukah mencintaiku selanjutnya???

Alka langsung memeluk Anjani lalu diciumnya puncak kepalanya dengan mesra. Pasangan yang sedang kasmaran ini sedang menikmati masa indahnya bersama.
Pasangan yang sedang bermadu kasih itu sampailah ke telingah ayah Anjani. Ia menatap murka anak gadisnya sedang bermesraan. Raden Yunus menyuruh anak buahnya untuk menyeret Anjani ke depan ayahnya.

*****

Tembok yang sudah tua dibelakang gedung putih yang begitu menyeramkan adalah tempat sepasang kekasih itu memadu.
Anjani mendesah, “sampai kapan kita seperti ini?” ucapnya sembari mengintip ke sebuah celah untuk melihat mata Alka yang senduh.
“harus ku sadari kita memang berbeda, agama dan juga kasta” beban Alka begitu kuat.
“aku hanya bulir debu dimatamu, sementara engkau ciptaan Tuhan yang mengalahkan jagat raya, haruskah cintaku ini sampai disini?” air mata Alka mengalir membuat sebuah sungai-sungai kecil di pipinya.
“kalau kau begitu, kau sama halnya membunuhku secara perlahan” bibir Anjani bergetar.
“sangat menyiksa jika kau jauh dariku. Dengan kecintaan matamu yang membuat jantungku berdebar ketika matamu berbinar manja,”
Anjani menangis, “aku selalu menangisi hidupku”
“jika air mata semuanya kesedihan, dimanakah air mata kebahagiaan itu?” Tanya Alka nafasnya teratur.
“layakkah air mataku berubah menjadi kebahagiaan denganmu? Sehingga mereka tahu bahwa kau lah satu-satunya yang sanggup membuatku meneteskan air mata kebahagiaan, tidak yang lain hanya kau”
“aku akan menyanggupi dan bersumpah atas nama ibuku. Aku akan membuatmu menangis bahagia, ingatkah engkau tentang janji pelangi saat hujan reda?”
“pelangi sudah berdusta, sanyang. Aku hanya percaya tentang rembulanmu” mata Anjani memerah.
“Je, rembulan dimatamu jangan terus berkabut. Aku ingin menikmati rembulanmu itu”
“kisah cinta layla dan Qays berakhir tragis, layla meninggal dan kemudian Qays meninggal dipusaran Layla. Lalu kisah Romeo dan Juliet juga berakhir tragis. Apakah kisah cinta kita berakhir seperti itu?” suara Anjani semakin bergetar.
“arghhhhhh” Alka mengerang suaranya begitu menyakitkan ditelinga Anjani.
Anjani panik, “Alka...”
Sang Ayah memandang murka. Air mata Anjani meinitik deras. Peristiwa itu membuat Anjani bagaikan burung di sangkar emas. Ia selalu diawasi oleh mata-mata ayahnya. Harapanya untuk bertemu sang kekasih bak suap tergantung.
Sementara Alka ia diasingkan, ia dikurung di pedalaman hutan dengan penjagaan ketat oleh ayah Anjani. Ginar sahabatnya menceritakan apa yang terjadi dengan Alka ke Anjani. Dan kini Anjani semakin merana karena nafasnya jauh dari sisinya.
Hanya syair-syair kerinduannya ia goreskan untuk sang kekasih. Kerinduanya yang menyiksa batinya. Air mata yang nyaris kering itu selalu merintih merindukan oase malamnya.

Rindu ini menyiksa...
Air mataku nyaris mengering...
Malam ini seperti malam kemarin
Renjana kini menguasai tubuh ringkihku
Menelan pahit unsure dari Takdir-ku
Tidakkah mereka mengetahui?
Jiwaku ini terbagi...
Belahan yang satu untuk diriku
Yang satu hanya untukmu
Tidak untuk yang lain...
Cinta bukanlah harapan atau ratapan
Walau tiada harapan untuk memilikimu,
Tapi tetap jiwaku hanya untukmu....

*****

Mata beningnya selalu meneteskan air mata derita. Sangat sukar untuk menyembunyikannya. Anjani gadis itu seperti kehilangan separuh hidupnya, yah pemuda itu. Ia menghilang seperti di gulung ombak pantai selatan. Tanpa kabar berita.
“Anakku sampai kapan kau mengurung diri?”
Anjani tak sudi memandang wajah ayahnya.
“Kau masih peduli denganku? Setelah semuanya kau perlakukan ini padaku?”
Raden Yunus mendesah ada satu alasan yang membuat ia seperti ini, memisahkan putrinya dengan Alka adalah pilihan tepat buatnya.
“Kau akan mengerti, dan kau akan beterimakasih atas yang dilakukan ayahmu ini”
Anjani tersenyum sinis. “Kasta? Agama atau apa? Katakan padaku apa yang kau sembunyikan pada putrimu ini”
”Kau pasti tahu dengan sendirinya”
Kalimat menggantung itu membuat Anjani berada dalam sebuah titik ketidakpastian.
“KATAKAN PADAKU APA YANG KAU SEMBUNYIKAN PADAKU”
Raden Yunus tidak menghiraukannya ia pergi dari kamar Anjani.
“Sudah cukup ayah” ia terduduk bibirnya gemetar.
“Anjani” suara lembut itu menyeruak di sela isakan Anjani.
“Ada apa bu? Apa yang disembunyikan ayah, sudah cukup bu. Kasihanilah aku”
Ibu Anjani menggelengkan kepala ia juga tidak tahu isi pikiran suaminya itu. “Sudah kau tanyakan pada ayahmu?”
“Sudah bu. Aku mencintainya jika ayah tidak menyetujuinya. Bisakah ayah  memperlakukan Alka dengan semestinya?”
“Sungguh, ibu tidak tahu semua ini”
*****
Cintaku padamu sanggup menampung air samudera.
Kesetianku bisa kau uji.
Keselarasan hidupku adalah kau.
Derita cinta itu...
Menyakitkan karena rindu...
Rinduku bak angin semalam
Dingin tanpa selimuti kurcaci.
Alka memandang semburat cahaya bulan dari sela-sela atap yang terbuat dari daun lontar itu. Semburat cahaya itu mengukir wajah Anjani. Akh... rindunya menggunung. Cintanya terhadap Anjani gegap gempita di hatinya.

*****
Jari jemariku tak sanggup menghapus air mata.
Bibirku tak sanggup lagi merintih.
Hanya kau...
Yang sanggup menghapus segala dukaku
Hanya kau...
Yang sanggup mencium rintihan di sudut bibirku.
Biarlah aku jadi selasi
Walau pujangga memberikan seribu melati
Mencintaimu tak kan kusesali
Walau dunia menghujat memaki.

Hanya syair-syair itu yang menemani Anjani tiap malam. Ia berjalan penuh ketegaran. Di tatapnya kedua orang tuanya. Anjani bersimpu di depan kaki ayahnya.
“Katakan ayah, apa yang kau tutupi dari putrimu ini? Aku mohon ayah. Apapun alasanya aku akan memahminya. Asalkan ayah jangan tutupi ini semua, aku lelah, hati ini lelah ayah. Lelah menangisi derita cinta yang begitu menyakitkan”
“Putrimu yang dulu kau timang, kau manjakan, dan tak pernah membuatnya menangis. Aku bersimpuh untuk yang terkasih. Aku ingin tahu kebenaran”
“Bangunlah Anjani, kau tak perlu bersimpuh seperti itu” suara berat Raden Yunus.
“Tidak ayah, putrimu ini ingin tahu. Segitu susahka? Mengucapkan kebenaran dari mulutmu?”
“Jika ayah katakan kau ingin keluarga kita hancur?”
“Maksud ayahanda apa?” Ibu Anjani menatap suaminya dengan kecurigaan.
“Sudahlah” ujar Raden Yunus mulai panik.
“Katakan ayah”
“Kau harus jelaskan semua ini”
Raden Yunus terdesak. Ia tidak ingin tahu sebuah dosa besar yang ia perbuat dimasa lalu.
“KATAKAN” desak mereka berdua.
“Karena Alka adalah anakku”
Bak petir menghujam jantung Anjani. Matanya yang penuh dengan air mata melolong tidak percaya, sementara ibu Anjani menatap suaminya dengan tatapan kosong lalu jatuh air matanya.
“Sebelum ayah menikahi ibumu, ayah adalah pacar dari Udit Faridda. Kisah cintamu seperti ayah dulu. Penuh pengorbanan. Cinta itu bisa belajar seiring dengan waktu lupakan Alka, ia adalah kakakmu” ujarnya lalu pergi.
“DOSA DIMASA LALU KAU TUMPAHKAN PADA ANAKMU INI?” jerit Anjani.
“Kau harus pahami semua Anjani” Raden Yunus berhenti langkahnya.
“Baiklah, katakan dimana Alka?”
“Mintalah Sardi untuk mengantarmu ke tempat Alka”
Dengan sedikit kekuatan ia berlari ke samping rumahnya. Ia menggedor cukup keras sehingga pemilik rumah cepat membuka pintu.
Anjani menarik paksa Sardi “Antarkan aku ke tempat Alka”
“Tapi non”
“Ayah sudah mengijinkan”
Sardi pun mengantar Anjani kesebuah tempat di tengah-tengah hutan, angin tengah malam tak menyurutkan niatnya untuk bertemu dengan Alka.
Di sebuah gubug hanya dihiaskan lentera. Degup jantung Anjani tak beraturan. Sardi membuka gembok lalu di bukanya pintu itu. Sebuah sosok yang kurus dan tak terurus. Air matanya berlinang.
“Anjani itu kah kau”
“Iya ini aku”
Alka beranjak lalu memeluk anjani tanpa mau melepaskannya. Perasaanya yang sudah memuncak itu terbayar sudah.
“Peluk aku sayang, belai aku dengan kasihmu”
“Aku mencintaimu”
Di sudut ruangan itu. Anjani meletakkan kepalanya di dada Alka.
“Jika aku jadi bungah kau jadi apa?” Tanya Anjani sambil menatap binar mata Alka.
“Aku akan jadi matahari yang akan menyinari bungahmu, tanpa lelah aku akan menghangatkanmu dengan kasihku. Itulah dinamakan kasih sayang”
“Jika aku jadi rembulan?”
“Aku akan jadi matahari yang akan memberikan cahaya untukmu. Dan dengan cahaya itu aku bisa melihat cintamu. Itulah dinamakan pengorbanan”
“Jika aku jadi viniq?”
“Aku akan jadi matahari yang akan menerangi terbangmu. Mendampingimu kapanpun dan tanpa lelah. Itulah dinamakan kesetiaan”
Pergolakan minoritas di hati Anjani menggebu. Seseorang ia cintai ternyata adalah saudara kandungnya, tidak mungkin ia harus menikah dengan sedarah dengannya. Hatinya kalut.
“Jika kita tak kan berjodoh?”
“Entahlah sepertinya ajalku semakin dekat”
Anjani terisak “Dunia begitu menginginkan kita berpisah rupanya”
“Lengser senyummu makna lembayung layu, semilir angin hembusan birahi, biarkan takdir yang menyudahi, duniapun tahu cintaku begitu suci”
Alka membelai rambut anjani begitu tulus, syairnya begitu mengiris hati Anjani. Kenyataan pahit itu, dosa itu.
Bak lautan dengan gulungan ombakny. Langut kian menyiksa. Sepi bermuram durja. Jiwaku kini diujung takdir. Melangkah menjejal kerikil tajam, inginku menghindar tapi tak kuasa. Tuhan punya rencana”
Anjani semakin erat memeluk Alka. Ia tersenyum lembut. Mengamati setiap inci lekukan wajah Alka, seakan-akan ia tak akan menemui pemuda itu.
“Sayang, aku pergi dulu”
Alka tidak ingin melepaskan Anjani dari pelukannya.
“Aku tidak ingin kau pergi”
“Kau percaya seseorang pecinta yang di dunia menderita, insya allah di surga mereka bahagia”
“Insya allah” Alka tersenyum lalu melepaskan pelukannya.
Sebelum Anjani pergi, ia mencium kening Alka begitu lama. Lalu ia pergi ke dalam hutan, ia mengikuti langkah kakinya jauh dari tempat Alka berada. Mereka hidup dalam keasingan, kesendirian dan kesepian, dan pada akhirnya mereka meninggal dalam kesengsaraan cinta.

telah kuyak¡nkan hat¡ku dem¡ waktu yang telah kau ber¡kan
menc¡nta¡mu dengan penuh ke¡khlasan....

adalah bunga seroja yang harumnya terc¡um kala temaram....
saat remßang senja menjunta¡ lemßayung d¡lang¡t tep¡an selat sundamu....

Telah pula kus¡mpan jauh d¡b¡lah dada, d¡lubuk jantung hat¡
mengas¡h¡mu dengan segugus c¡nta yang suc¡....

adalah rembulan malam yang kala purnama semburat kan membua¡
saat kerl¡p serakan ß¡ntang meredup karena arakan awan mel¡ntas¡....

Telahpun kusel¡pkan dalam pahatan angan
menyayang¡mu dengan apa adanya...

adalah tar¡kan nafas....
basah melumur¡ j¡wa....
d¡am ßersemayam....
dan luluh dalam embun fajarmu...
selamanya untukmu rasa ¡n¡ kekal dan abad¡......
 tamat

Posted in

No Comments

Discussion

Leave a response