0

sahabat pelangiku

Posted on Saturday, 24 September 2011

 
“Diooooooooo” teriak Ratih berteduh di bawah gubug  tua
                Air hujan yang turun begitu deras membuat Ratih berlindung tapi tidak dengan bocah kecil itu. Dia tidak menghiraukan teriakan sehabatnya itu malahan dia menyuruh sahabatnya untuk bersenang-senang di bawah hujan tapi Ratih terus menggelengkan kepalannya.
                “ayoooo Ratiiih” teriak Dio tapi Ratih masih saja menggeleng.
                Dio berlari menghampiri Ratih. “ayo Ratih. Kita hujan-hujanan” ujar Dio membujuk Ratih
                “ngga Dio nanti sakit, Mami kamu pasti marah sama aku” ujar Ratih dengan polos
                “ngga bakal Ratih”
                Dio menyeret Ratih. Air hujan langsung membasahi tubuh kecil mereka. Dio menari memutari Ratih dan mereka tertawa bersama.

                “kamu tau ngga ? kenapa aku suka hujan ?” Tanya Dio lantang, suaranya seakan berlomba dengan suara hujan
                “apa?” Tanya Ratih
                “hujan bisa menghilangkan semua kesedihan kita. Air hujan itu seperti air mata kita Ratih, kesedihan kita akan berganti dengan kebahagiaan seperti halnya dengan hujan, ketika hujan redah pelangi akan muncul dan itulah tanda kebahagiaan” ucap bocah yang baru berumur 7 tahun itu.
                “kamu ko bisa tahu?” Tanya Ratih polos
                “hahahh Dio dilawan” ujar Dio bangga
                “Ikh Dioooooo”
                Ratih mengejar Dio, tapi tiba-tiba Dio terjatuh dan bajunya kotor terkena lumpur.
                “dio kamu ngga apa-apa kan?” Tanya Ratih panik
                Dio menutup mukanya lalu menangis. Hujan semakin deras dan tangisan Dio menjadi semakin keras. Ratih yang panik ikutan menangis juga.
                “Dio” suara bi  Surti
                Bi Surti menggendong Dio pulang sementara Ratih di tinggalkan sendiri dan masih menangis seorang diri.
                “ade mama nya mana ?” tanya anak lelaki yang berumur 12 tahun itu tapi Ratih  tetap menangis, “kaka antar kamu pulang ya”
                Ratih lalu digendong anak itu dan di antarnya pulang. Dan setelah kejadian itu Dio sakit dan di rawat di rumah sakit selama 3 hari sementara Ratih, dia hanya di rawat di rumah.
                Mami nya Dio tidak mengijinkan Dio untuk berteman dengan Ratih, tapi Dio tetap menemui Ratih sahabatnya itu tanpa sepengetahuan orang tuanya.
                “kamu yakin ?” tanyaku ketika dipertemuan terakhir mereka
                “kamu tau, ini boneka buat nemenin aku tidur, biar kamu ngga lupa sama aku”
******
                aku duduk di sudut menangisi diriku sendiri, aku benci semuanya, semua tentang hujan, cermin bahkan wajahku sendiri. kenapa harus aku yang merasakan semuanya.
                Aku mengalami luka bakar disebagian tubuhku dan wajahku, bahkan wajahku yang dulu begitu sempurna kini rusak akibat tragedi mengerikan itu. Aku sangat membenci ayahku karena dia yang membuatku begini, aku mungkin orang yang paling menderita di dunia, betapa teganya dia memperkosaku, anak kandungnya sendiri, ketika aku berumur 17 tahun tepat di hari ulang tahunku, dan yang kedua kalinya dia akan memperkosaku, dia memukuliku dengan sabuknya aku terus melawan dan berlari ke dapur. Dia menyirami aku dengan minyak tanah, dia memintaku untuk menurutinya tapi aku tidak mau dan di saat itulah ayahku menyalakan korek api dan membakarku.
                Kini aku tinggal di panti sosial, dan keberadaan ayahku entah dimana yang pasti aku tidak mau melihatnya lagi.
                “Ratiiiiiiiiiih”
Kerudung merah ku pakai untuk menutupi luka bakar yang ada di wajahku. Ku buka pintu kamarku. Terlihat sesosok wanita paruh baya di depanku.
“Ratih bantu yang lain ada donator yang kesini”
Wanita paruh baya itu secepat kilat meninggalkanku sendiri. Aku membantu Rosa menyiapkan makanan untuk orang yang begitu baik menolong kami. Setiap kali mereka dating aku tak pernah berhadapan dengan mereka, aku takut mereka jijik melihat keadaanku walau hanya untuk mengucapkan terimakasih.
Suara langkah riuk menandakan sang donator sudah sampai. Aku bergegas untuk pergi ke kamarku. Ku kunci pintu kamarku dan menyendiri di dalam kamar.
Tok…tok
“ka Ratih di suruh Bunda buat bersihin halaman belakang”
Menyapu di halaman belakang  membuatku teringat dengan masa kecilku. Sahabatku Dio entah sekarang ada dimana, aku yakin semua cobaan yang aku alami pasti ada hikmah terselubung dari Tuhan untukku.
Rombongan Donatur itu berjalan di lorong panti, mataku mengikuti langkah mereka sesuatu yang mengalihkan mataku yaitu pemuda itu yang berjalan di belakang para orang yang berumur itu, aku baru melihat pemuda itu.
Aku mengintip di lubang angin jendela, mataku masih mengawasi pemuda itu, entah dia tahu kalo aku mengawasinya dia memandangiku lalu kemudian ku bergegas pergi.
Bunda menyuruhku lagi untuk membersihkan toilet, aku bersenandung lagu kesukaanku waktu kecil, aku dan Dio pasti barnyanyi kalo pelangi menampakan keanggunanya.
“hey”
Aku bergegas pergi namun pria itu memegang pergelangan tanganku, aku merontah agar tangan pria itu melepaskanku tapi dia malahan mencengkram tanganku lebih kuat.
“hey aku Cuma mau Tanya” ujar pria itu
“aku mohon jangan sakiti aku” pintaku
“ngga, aku mohon kamu tenang”
aku menenangkan diri dan baru kali ini aku tidak takut dengan orang yang ada di depanku, dan sekarang dia melihat wajah buruk rupaku.
“kamu mau apa?” tanyaku ku tundukan kepalaku
“kenapa dengan wajahmu?”
‘kamu mau apa?” tanyaku lantang
“iya maaf, kamu tau dari mana lagu itu?”
“mungkin anda salah dengar”
“Ratiiiih”
Air mataku berlinang baru kali ini ada orang yang mengenaliku, “kamu siapa ?” tanyaku
“ini Dio sahabatmu” lalu dia memelukku, “ kamu kemana aja Ratih?”
Sahabat kecilku sekaligus pelangiku hadir di sela-sela keterpurukan hidupku, sahabat yang slalu ada dalam suka dan duka, kembali menyemangatiku lagi

Posted in

No Comments

Discussion

Leave a response